Begini Caranya Algoritma Facebook Menangkan Seseorang di Pemilu

Begini Caranya Algoritma Facebook Menangkan Seseorang di Pemilu

April 29, 2018 0 By admin

Fren Lutrun : “Di era dunia serba digital ini, kecenderungan orang menggunakan algoritme facebook untuk bertarung dan mempengaruhi psikolgi public di hajatan politik sangat mungkin lolos dalam kompetisi itu. Bahwa eror margine dalam perhitungan hanya sebagian kecil saja. Tetapi yang luar biasa adalah psikologi public benar-benar luar biasa dampaknya”

 Jakarta – Direktur CV. Indoweb, Fren Lutrun mengatakan kecenderungan orang menggunakan iklan facebook dengan melakukan kerjasama dengan pola kerja Algoritme Facebook sangat mungkin mendapat simpatik, dukungan, bahkan berpotensi untuk menang.

“Banyak artikel yang pernah saya baca, katakanlah pengalaman Donald Tramp yang berhasil menduduki puncak kekuasaan politik di Amerika Serikat itu menjadi Pelajaran penting kita di Indonesia. Kita melihat bahwa meskipun pendiri Facebook Mark Zuckerberg waktu itu membantah banyak pihak soal pengaruh algoritme facebook, tetapi sebagai orang yang pernah mencoba sekedar untuk mengetahui tingkat kinerja facebook, maka dampak benar ada. Hematnya, facebook membuka pola kerja itu, selama tidak mengandung unsure-unsur yang merugikan banyak pihak. Kecenderungan untuk orang mengikuti dan menyukai kita ada, tetapi yang mengandung unsure kabar bohong (hoax) itu relative dan sangat tergantung bagaimana facebook memfilter kabar-kabar itu”, kata putera Maluku yang sekarang berprofesi sebagai seorang programmer dan desain website kepada media ini, minggu (29/4) melalui pesan singkatnya di washAp.

Dijelaskan, waktu ia mencoba melakukan kerjasama dengan facebook sekedar mengetahui bagaimana algoritme facebook bekerja, disitu terasa bahwa itu benar-benar ada. Algoritme Facebook katanya adalah satu prosedur sistematis (komputasi) yang bisa memilih konten untuk pengguna. Konten-konten pilihan itu tersaji di “Kabar Berita” (“News Feed) atau “Beranda” (“Home”) masing-masing pengguna.

“Kita tidak bekerja untuk mengirim konten-konten itu, tetapi facebooklah yang melakukan semua itu. Dan tentunya kita harus mengeluarkan sedikit uang untuk membayar mereka. Yang lebih menarik adalah facebook dalam pelaporannya kepada kita dijawab secara terperinci iklan yang dimaksud”, jelas pria asal Maluku ini.

Dijelaskan, misalkan iklan apa yang anda ingin jual, kepada siapa, di wilayah mana, pada usia berapa iklan itu tampil, dan berapa lama anda beriklan. Semua terakumulasi sistemik termasuk berapa anggarannya.

“Coba anda lihat saja di facebook itu. Sudah banyak yang lakukan itu. Mereka membuat halaman facebook dengan kepentingan bisnis atau apalah, kemudian isi konten-konten yang ada di halaman itu kemudian diiklankan ke facebook. Dari pengalaman yang ada, kita bisa berkesimpulan bahwa ternyata keberhasilan Donal Trump (Tokoh Kontraversial) di Pilpres waktu itu adalah satu bukti yang nyata, dan bukan tidak mungkin itu terjadi di Indonesia”.

Singkat kata, lulusan S1 Universitas Kristen Artha Wacana ini mengatakan, algoritme lah yang menampilkan status-status kiriman pengguna lain di “Beranda” Anda. Untuk menjalankan fungsi itu, algoritme mempertimbangkan banyak hal. Termasuk hitungan kuantitatif, macam seberapa banyak sebuah status mendapat tanda suka (like), atau dibagikan pengguna lain (share). Pun kedekatan Anda dengan pemilik status turut dipertimbangkan. Cara kerja algoritme itu sering pula dikritik, karena punya kecenderungan menyajikan berita “yang ingin dibaca”. Bukan berita “yang perlu dibaca”.

“Tak heran bila para pengkritik Donal Trump, menuding Facebook telah menciptakan “bilik gema” (echo chamber). Lebih kurang, pengguna Facebook berpotensi menjadi “katak dalam tempurung”, karena ada kecenderungan sekadar mengonsumsi konten yang mengakomodir (berkesesuaian) dengan pandangan mereka dalam kasus pilpres AS tentu berkenaan sikap politik. Dan sekadar catatan, bercermin dari pilpres AS, bukan tidak mungkin sisi gelap algoritme Facebook bakal berdampak di Indonesia, yang punya sekitar 88 juta pengguna aktif bulanan. Gejala itu lamat-lamat terlihat, misal lewat beredarnya aneka kabar bohong jelang Pilkada serentak di tanah air, yang akan digelar”, kata dia mengutip pemberitaan situs beritagor.id salah satu situs yang menuliskan tentang pengaruh facebook kepada Trump.

Sebagai orang yang pernah melakukan kerjasama dengan facebook tentang ini, ia membuka diri kepada pihak lain ingin menggunakan pola kerja algoritme facebook baik untuk kepentingan bisnis ataupun politik, dan yang jelas tidak mengandung unsure yang merugikan banyak orang. Artinya, bukan kabar bohong (hoax). (redaksi)

(Visited 36 times, 1 visits today)