Waspada Demam Berdarah Dengue di Teluk Bintuni Papua Barat

Waspada Demam Berdarah Dengue di Teluk Bintuni Papua Barat

April 22, 2020 0 By admin

Oleh: Minarsih Maria Sambo *)

Akhir-akhir ini pembahasan tetang penyakit menular sedang ramai dibahas terutama tentang Covid-19 yang telah mewabah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tetapi jangan sampai lupa kalau kita juga memiliki penyakit tular vektor lainnya yang sebenarnya tingkat urgensinya juga tinggi dan juga menyebabkan kematian seperti Demam Berdarah Dengue (DBD).

Demam berdarah dengue atau sering disebut DBD merupakan salah satu penyakit tular vektor yang di sebabkan oleh virus dengue. Virus dengue ini berperan sebagai agent dan nyamuk Aedes aegypti berperan sebagai vektor atau pembawah sekaligus penular virus dengue kepada manusia.

Virus dengue akan menginfeksi kedalam darah manusia, dengan manifestasi klinis pendarahan yang menimbulkan syok bahkan berujung kematian. Nyamuk Aedes aegypti sangat suka berdiam dan berkembang biak dengan cepat di daerah yang panas serta lembap, seperti Indonesia.

Data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa terdapat kaitan antara perubahan iklim dan juga curah hujan yang tinggi dan tidak teratur sangat mendukung pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti. Perkembangan DBD sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia dan juga kondisi lingkungan, kondisi lingkungan yang baik dan disertai perilaku masyarakat yang benar akan membantu dalam penekanan kasus DBD (WHO,2019).

Jentik nyamuk Aedes aegypti sangat cepat berkembangbiak pada tempat-tempat yang berair tenang, biasanya pada bak mandi, profil tank, pot tanaman baik didalam rumah, sekolah, perkantoran dan juga diluar rumah, kemudian wadah-wadah bekas seperti kaleng, ban bekas, kerangka kendaraan, dan juga pada genangan air lainnya yang memungkinkan dapat menampung air terutama saat musim penghujan, kondisi-kondisi seperti itu sangat cocok dijadikan perindukan nyamuk (breeding place).

Gejalah umum yang dirasakan oleh seseorang yang mengalami DBD biasanya demam berpola yang terjadi kurang lebih 3 hari pertama dengan suhu mencapai 40oC, dan akan membuat munculnya titik-titik merah pada permukaan kulit, disertai dengan sakit kepala, nyeri pada otot dan juga persendian, mual dan muntah, menurunnya nafsu makan, dan terasa sakit saat menelan.

Gejalah-gejalah ini terkadang masih dianggap sepeleh oleh masyarakat dan belum mengetahui kalau gejalah tersebut merupakan gejalah DBD karena gejalah yang ditimbulkan hampir sama dengan gejalah peradangan tenggorokan dan juga batuk flu biasanya.

Setelah demam tinggi selama kurang lebih 3 hari, memasuki hari ke 4-5 biasanya demam akan turun dan suhu tubuh akan kembali normal tetapi pada fase ini seorang penderita DBD harus di berikan perawatan dan pengawasan khusus dari rumah sakit karena hari ke 4-5 adalah fase kritis dimana penderita DBD akan mengalami drop tiba-tiba, badan akan lemas dan panas tubuh akan naik disertai dengan menggigil, setelah itu baru memasuki fase pemulihan sekitar hari ke 6-7.

Selain mengenali 3 fase utama DBD yaitu demam, kritis, dan pemulihan. Ada satu fase yang biasanya terjadi dan dapat menyebabkan kematian apabila tidak segera di tangani dengan benar, fase tersebut di kenal dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dimana seorang pasien positif DBD akan mengalami syok, syok dapat terjadi akibat trombosit yang terlalu rendah, dan juga kurangnya rehidrasi cairan didalam tubuh, sehingga membuat pasien menjadi lebih lemas dan juga tekanan darah akan semakin menurun.

Dan akan semakin parah apabila sudah disertai dengan keluarnya darah pada organ tubuh lainnya seperti mimisan, atau mengeluarkan feses yang berdarah dll, sehingga penanganannya harus cepat karena Dengue Shock Syndrom (DSS) adalah salah satu fase yang dapat menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani sedini mungkin.

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Teluk Bintuni sesuai data dari Dinas Kesehatan Teluk Bintuni mulai dari tahun 2016 sampai tahun 2019 kasus DBD semakin meningkat secara drastis. Pada tahun 2016 data terkonfirmasi ada 19 kasus DBD dengan golongan umur rata-rata 1 tahun sampai 44 tahun, dari 19 kasus ini tidak ada yang meninggal.

Pada tahun 2017 data terkonfirmasi terjadi penurunan kasus menjadi 8 kasus DBD, dari 8 kasus ini tidak ada yang meninggal. Pada tahun 2018 data terkonfirmasi terjadi peningkatan jumlah kasus menjadi 22 kasus DBD, dari 22 kasus ini tidak ada yang meninggal.

Pada tahun 2019 data terkonfirmasi terjadi peningkatan yang sangat drastis menjadi 178 kasus DBD, namun tidak ada yang meninggal. Kasus tertinggi biasanya terjadi pada bulan januari-februari dimana pada bulan-bulan tersebut terjadi musim penghujan yang menyebabkan banyaknya genangan air dan juga lingkungan menjadi lebih lembab. Sedangkan untuk data tahun 2020 belum dapat diperkirakan jumlah kasus DBD yang terjadi.

Beberapa program penanganan telah dilakukan pemerintah seperti melakukan fogging atau pengasapan dan juga pembagian bubuk abate dari rumah sakit. Namun nyatanya penanganan tersebut belum terlalu efektif dalam penekanan jumlah kasus DBD.

Tetapi jika kita ketahui tindakan fogging atau pengasapan hanya membuat nyamuk tertidur sebagian kecil nyamuk akan mati dengan fogging, tetapi sebagian besarnya akan menjadi kebal dan bahkan resisten terhadap fogging sehingga otomatis perkembangbiakannya akan semakin pesat dilingkungan tersebut.

Fogging juga hanya membunuh sebagian kecil nyamuk dewasa tetapi tidak membunuh jentik-jentik yang sudah terbentuk di lingkungan tersebut. Dan juga bahan kimia dari fogging akan mencemari lingkungan sekitar, sehingga perlu adanya penanganan lain yang lebih ramah lingkungan dan lebih efektif dalam penekanan jumlah kasus DBD di Teluk Bintuni.

Dalam bidang bioteknologi dapat menawarkan beberapa strategi pengendalian yang lebih ramah lingkungan dan bisa lebih efektif bila diterapkan oleh masyarakat secara rutin. Sebut saja strategi tersebut adalah “Management lingkungan” yang mencakup beberapa tindakan seperti: (Perbaikan cakupan dan penyimpanan air, pengelolaan sampah dengan baik, perbaikan kondisi pemukiman, dan perubahan perilaku masyrakat).

Dengan memperbaiki cakupan air masyarakat dan juga mengurangi benda-benda disekitar lingkungan yang memungkinkan akan menjadi wadah penampung air saat hujan, kemudian rutin mengganti air pada pot tanaman, menutup kubangan-kubangan yang terbentuk saat hujan, serta membuat penampungan air yang akan digunakan dengan benar, bak mandi selalu rutin dikuras paling tidak setiap 10 hari.

Bila perlu tempat-tempat penampungan air harus memiliki penutup sehingga tidak mengundang nyamuk meletakan jentiknya pada air-air tersebut, kemudian pengelolaan sampah yang benar tentu bukan hanya untuk mencegah DBD tetapi juga mencegah penyakit lainnya, penumpukan sampah akan membuat lingkungan terlihat kumuh, bau, dan juga lembab sehingga pada musim penghujan sangat cepat mengundang penyakit.

Kondisi bangunan sebaiknya memiliki sirkulasi udara yang cukup sehingga tidak terlalu pengap dan juga lembap dan juga usahakan untuk mendapat cukup sinar matahari baik pada pagi hari ataupun sore hari, dan yang terpenting adalah perilaku masyarkatnya perilaku masyarakat sangat besar perannya dalam mendukung penekanan kasus DBD dimana kebisaan-kebiasaan menggantung pakaian bertumpuk-tumpuk di belakang pintu akan sangat memicu kedatangan nyamuk Aedes aegypti dan juga kebiasaan masyarakat untuk menerapkan hidup bersih dan sehat.

Selain stratergi “Management Lingkungan” masyarakat juga bisa menggunakan beberapa jenis tanaman yang aromanya menyengat dan tidak disukai oleh nyamuk Aedes aegypti. Seperti tanaman sereh, kemangi, daun pandan, dan juga bunga tai ayam pengendalian nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan tanaman selain ramah lingkungan juga menanbah nilai estetika di lingkungan rumah.

Artikel ini bertujuan untuk memperingati hari Demam Berdarah Dengue (DBD) sedunia yang jatuh pada tanggal 22 April 2020. Semoga kita bisa Bersama-sama bekerja sama menciptakan Kabupaten Teluk Bintuni bebas Deman Berdarah Dengue (DBD).

*). Mahasiswa Fakultas Bioteknologi UKDW Yogyakarta

(Visited 331 times, 1 visits today)