Penanganan Covid-19 Di Teluk Bintuni Perlu Dievaluasi Kembali, Dr. Andreas Ciokan MM: “Setuju Karantina Terpusat”

Penanganan Covid-19 Di Teluk Bintuni Perlu Dievaluasi Kembali, Dr. Andreas Ciokan MM: “Setuju Karantina Terpusat”

Mei 31, 2020 0 By admin

BINTUNI | kadatebintuni.com ~ Serangan pandemi Covid-19 sekarang sudah menjangkau lebih dari 100 negara didunia, dan berhasil mempengaruhi semua aspek kehidupan sehari-hari. Begitu pula halnya dengan masyarakat yang berada di Kabupaten Teluk Bintuni.

Melihat pertambahan kasus positif Covid-19 yang meningkat hampir setiap hari, data pertanggal 30 Mei 2020, telah dilaporkan 42 warga Teluk Bintuni yang konfirmasi POSITIF COVID-19 berdasarkan pemeriksaan real-time PCR dan 27 warga Teluk Bintuni telah dinyatakan SEMBUH. Tentu masih membuat masyarakat menjadi cemas dan takut serta mawas diri.

Kondisi inipun membuat Dr. Andreas Ciokan, MM yang merupakan seorang purnatugas ASN bidang kesehatan dan pernah menjabat Kepala Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, menjadi prihatin dan merasa terpanggil untuk ikut mengambil bagian dalam upaya penanggulangan Covid-19 dengan cara dan kemampuannya sendiri.

Menurut Dr. Andreas Ciokan, prinsip dasar dari penanganan endemi Covid-19 ini adalah dengan memutuskan rantai penularan dengan cara memisahkan orang yang sudah terinfeksi atau suspek/ diduga terinfeksi Virus Corona dengan orang yang masih sehat, yang dikenal dengan istilah diisolasi atau dikarantina selama kurang lebih 14 hari.

Berdasarkan pengalamannya, sebagai salah satu orang yang ikut membuat kebijakan “Kabupaten Teluk Bintuni Bebas Malaria” mengungkapkan bahwa untuk memutus mata rantai penularan penyakit menular, haruslah mengetahui Epidemiologi penularan tersebut.

Dicontohkan pada kasus malaria, dimana penyebabnya adalah Bibit Malaria yang disebut Plasmodium, melalui gigitan nyamuk Anopheles” sehingga yg dibasmi adalah plasmodiumnya, dan bukan Nyamuknya.

Lanjut penjelasannya, dalam hal penanganan Covid-19, yang harus dipahami terlebih dahulu adalah Virus Corona, hidup dan berkambang biak didalam selaput lendir dari tenggorakan dan salaran napas atas kemudian turun kedalam paru-paru, penularan dapat terjadi lewat Droplet dari orang yang terinfeksi covid-19, pada saat batuk atau bersin.

Oleh karena itu, menggunakan masker, sering mencuci tangan dengan sabun, jaga jarak, adalah hal yang harus dilakukan setiap saat, agar virus tidak masuk melalui mulut, hidung dan mata.

“Covid-19 merupakan jenis penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya atau biasanya kita sebut sebagai Self Limited Disease, sehingga bila seseorang terinfeksi, tetapi tidak bergejala atau gejala ringan saja maka yang bersangkutan dapat diisolasi dalam rumah karantina selama 14 hari maka akan terjadi penyembuhan sendiri,” tutur pria lulusan FK Unhas Makassar itu, Sabtu (30/5/2020) di kediamannya di Kampung Wesiri KM 7 Distrik Bintuni.

Dr. Andreas Ciokan menilai, PROTAP dan SOP di Kabupaten Teluk Bintuni masih “Copy Paste” dari pemerintah Pusat. Sedangkan PROTAP dan SOP, baginya, haruslah disusun menyesuaikan dengan kondisi obyektif yang ada pada setiap daerah, sedangkan PROTAP dan SOP dari pusat hanya menjadi acuan dalam penyusunannya.

Dicontohkan seperti penanganan OTG dan ODP, dimana orang yang di kategorikan OTG dan ODP hanya disarankan untuk karantina mandiri dirumah masing-masing, sedangkan karantina mandiri minim pengawasan dan tidak menjamin memutus mata rantai penularan namun berpotensi terjadi penularan baru bagi anggota keluarganya maupun masyarakat sekitar. Apalagi kebanyakan OTG dan ODP adalah orang-orang “Kepala Batu” dan tidak mentaati prosedur karantina mandiri di rumah.

Terkait prosedur yang baik menurut Dr. Andreas Ciokan, pemerintah daerah harus berani mengambil kebijakan, salah satunya setiap orang yang dari luar yang masuk ke Kabupaten Teluk Bintuni harus di karantina terlebih dahulu tanpa terkecuali dan bukan karantina mandiri di rumah masing-masing. Ia lebih setuju pada karatina terpusat.

Dengan adanya karantina ini diharapkan dapat memutuskan rantai penularan/ menghambat lokal transmisi. Terkait tempat karantina yang disarankan, Dr. Andreas Ciokan mencontohkan tempat karantina di kampung Wesiri yang digagas komunitas peduli Covid, dibuat secara mandiri dengan fasilitas yang cukup memadai sehingga membuat orang yang dikarantinanya menjadi betah.

Betah disini artinya ketersedian kebutuhan semuanya cukup karena orang yang dikarantina itu sudah menanggung beban tekanan, dan akan melawan apabila ada tekanan baru, salah satunya kekurangan kebutuhan pokok. Sedangkan tempat karantina di kampung Mesina Distrik Bintuni, Dr. Andreas Ciokan mempertanyakan dengan keras alasan dibuat tempat karantina di sana.

Untuk kebutuhan seperti air dan listrik belum dapat disediakan secara layak disana, dan bila dikaitkan dengan penanganan tim kesehatan, ia meragukan.

Untuk alur penyebaran Local Transmition atau penularan dari dalam, menurut himbauan Dr. Andreas Ciokan harus secepatnya ditangani dengan cara treacking atau penjejakan penularan. Jangan takut jumlah Positif bertambah, namun secepatnya dan sebanyak-banyaknya test baik itu PCR Test maupun Repied Test. “Kalau kita tidak secepatnya menangani maka saya istilahkan, sembuh Satu Tumbuh Sepuluh, ” ujur Dr. Andreas Ciokan.

“Dengan menerapkan prosedur penanganan secara ketat dan benar, “maka kita tidak sampai kehilangan momen kebersamaan kita seperti beribadah bersama,” ujar pria asal kabupaten Sula, Maluku Utara itu lagi.

Terkait kebijakan “NEW NORMAl”, “Istilah New Normal, kata Ciokan, ada karena adanya keadaan Abnormal yang di sebut sebagai PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), sehingga bila kita mau kembali lagi kekeadaan Normal seperti sediakala, maka kita harus melewati suatu tahapan/fase penyesuaian, dan ini hanya bisa dimulai apabila kurva pertambahan kasus positif berhasil ditekan dengan menunjukkan penurunan penularan Covid-19. Maka, perlu juga dilakukan evaluasi kembali oleh tim Satgas Covid-19.|SW

(Visited 568 times, 1 visits today)