Museum Auki Siap Diresmikan, Menunggu Jembatan Darurat Kali Mapia

Museum Auki Siap Diresmikan, Menunggu Jembatan Darurat Kali Mapia

April 28, 2018 0 By admin

MODIO ~ Kepala Distrik Mapia Tengah, Engelbertus P Degei mengatakan, museum Auki yang telah dikerjakan sejak awal 2017 lalu, kini siap diresmikan, hanya saja masih terkendala dengan jembatan Kali Mapia yang belum selesai dikerjakan. 

Kali Mapia memiliki bentaran seluas 55 meter dan menjadi muara dari beberapa kali diwilayah itu seperti kali Pogi, kali Waga, kali Teu, kali Saka dan kali Mapia yang mengalir dari Bomomani menuju Selatan, Kokonau.

Menurut Kapala Distrik Mapia Tengah, sudah berkali-kali membuat jembatan darurat dengan kayu seadanya. Bahkan sudah 8 kali dikerjakan, namun derasnya air, sudah delapan kali pula jembatan terhanyut terbawa air.

Barusan di bulan Desember 2017, pemerintah sudah anggaran dana untuk ganti rugi, namun dana itupun tak kunjung tiba di masyarakat yang selama ini kerja jembatan darurat dan kecewa, rakyat setempat putuskan jembatan dengan sengsor.

Jembatan kali Mapia merupakan jembatan yang sangat vital, sangat dibutuhkan masyarakat Mapia, terutama wilayah Mapia Tengah, Mapia Barat, Piyaiye dan Unito, tentu akan melewati Kali Mapia.

Menurutnya, untuk sementara masih menggunakan jembatan rotan yang terletak 3 Km sebelah utara dari jembatan yang sedang dibangun.

“Seharusnya jembatan darurat menjadi tanggung jawab perusahaan yang sedang mengerjakan jalan atau jembatan. Namun selama ini, entah sengaja atau tak sengaja, jembatan kali Mapia ini diabaikan”, ujar Degey.

Menurut Degey, pihaknya bersama sejumlah tokoh masyarakat dan kepala suku sudah membuat proposal kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Dogiyai untuk membuatkan jembatan darurat, dan diharapkan pemerintah daerah menjawab proposal tersebut agar jembatan tersebut bisa digunakan oleh semua pihak.

Degey mengatakan, wilayah Modio telah ditetapkan sebagai pusat masuknya agama Kristen di wilayah pedalaman Papua. Uskup Timika pada 18 Oktober 2015 telah menetapkan Auki Tekege, sebagai Tokoh Gereja yang telah berjasa membawa masuk agama Kristen di wilayah pedalaman.

Penetapan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk merenovasi total Kampung Modio menjadi tujuan wisata domestik dan pusat kegiatan keagamaan seperti kampung Mansinam di Manokwari.

Tahun ini, kata Degey, pihaknya sudah lapor kepada Bupati untuk meresmikan gedung Museum Auki yang sudah selesai dibangun 96 persen. Tinggal membawa patung-patung tokoh sejarah yang sementara ditampung di Nabire ditambah tralis atap yang berbentuk Alkitab.

Degey minta untuk pemda menjawab proposal jembatan darurat dan tidak perlu membuat MOU dengan pihak perusahaan untuk membangun jembatan darurat. “Bikin jembatan darurat, tidak butuh dana besar, dan tidak perlu bikin MOU dengan pihak DPRD. Cukup dana sedikit, kita bisa bikin jembatan darurat.

Selama ini, saya dengan DPRD Boma, kami dua bikin jembatan kayu dengan dana pribadi. Tapi kalau bisa, pemerintah bantu dana untuk kita bisa tanam besi dibawah dan balok 10 10, jembatan bisa dipakai”, ujar Degey, (12/04).

Degey mengatakan, dirinya sudah mempersiapkan patung tokoh-tokoh sejarah yang pernah berjasa membawa masuk agama Kristen di pedalaman Meuwo (sekarang Paniai, Deiyai, Dogiyai dan Mapia). Ada patung Auki dua buah, patung Komeha Magay, patung Wagakei Gobay, Debehaidoge Gobay, Kehaimaga Tekege, Minesaitawi Tatago, Malaikat dan tokoh Koyeidaba yang dipanah di Idakebo.

Kata Degey, visinya cuma satu yaitu rakyat bisa melihat tokoh sejarahnya, bisa membaca sejarahnya dan bahkan bisa menontong video sejarah masuknya agama Kristen di wilayah Meuwo. Dirinya dengan segala keberadaanya, sudah mempersiapkan itu dan akan diedarkan kepada publik, hanya menunggu jembatan darurat Kali Mapia. [ist]

(Visited 46 times, 1 visits today)