Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) Pada Anak Di Kelurahan Wagom Utara Distrik Pari Wari Kabupaten Fakfak

Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) Pada Anak Di Kelurahan Wagom Utara Distrik Pari Wari Kabupaten Fakfak

Juli 8, 2019 0 By admin

Delfina Rowati Onya 1, Elly Lilianty Sjattar 2, Arnis Puspitha R 3.
1Student in Bachelor Of Nursing Study Program, Faculty Of Nursing, Hasanuddin University
2lecturer in bachelor of nursing study program, faculty of nursing, Hasanuddin University
3nursing science study program students, Faculty Of Nursing, Hasanuddin University
Email: rowationya@gmail.com

ABSTRAK

Delfina Rowati Onya. C051171752. Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Dengan Demam Berdarah Dengue (Dbd) Pada Anak Di Kelurahan Wagom Utara Distrik Pari Wari Kabupaten Fakfak. Dimbing oleh Elly Lilianty Syattar dan Arnis Puspitha R.
Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit dengan penyebaran yang cenderung meningkat dan menyerang terutama pada anak anak. DBD di sebabkan oleh Aedes Aegipty dan Aedes Albupictus. Meningkatnya data penyakit DBD daerah Wagong dari tahun ketahun semakin meningkat 160 penderita pada tahun 2017 dan meningkat di tahun 2018 sebanyak 172 penderita.
Tujuan Penelitian: untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang Demam Berdarah Dengue.
Metode: desain penelitian deskriptif survey dimana dalam pengumpulan data tidak di lakukan intervensi tapi dilakukan cara menjawab pertanyaan pada kuesioner.
Hasil Penelitian: bahwa tingkat pengetahuan ibu tentang DBD pada Anak di wilayah kelurahan Wagom utara Distrik Pariwari Kabupaten Fakfak, dapat di lihat dari presentase berada pada kategori cukup 96 responden dengan presentase (43%) dari total 223 responden. Maka dari hasil tersebut dapat di ketahui bahwa tingkat pengetahuan ibu belum sepenuhnya menguasai tentang Demam Berdarah Dengue.
Kesimpulan dan Saran: gambaran tingkat pengetahuan, penyebab, gejala, perawatan ibu secara umum tentang demam berdarah dengue di wilayah Kelurahan Wagom Utara pada kategori cukup.
Kata Kunci : DBD, Pengetahu, Ibu dan Anak.
Literature : 25 daftarpustaka (2017-2019)

ABSTRACT

Delfina Rowati Onya. C051171752. DESCRIPTION OF WOMEN’S KNOWLEDGE LEVEL WITH DENGUE BLOOD FEVER (DHF) IN CHILDREN IN KELURAHAN WAGOM UTARA FAKFAK DISTRICT PARI WARI KABUPATEN. Supervisor by Elly Lilianty Syattar and Arnis Puspitha R.
Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease with a spread that tends to increase and attack especially in children. DHF is caused by Aedes Aegipty and Aedes Albupictus. Increased data on Wagong DHF from year to year has increased 160 patients in 2017 and increased in 2018 as many as 172 sufferers.
Objective: to determine the level of knowledge of mothers about Dengue Hemorrhagic Fever.
Method: a descriptive survey research design wherein the data collection was not intervened but was carried out how to answer the questions on the questionnaire.
Results: that the level of knowledge of mothers about DHF in children in the area of North Wagom sub-district Pariwari District of Fakfak Regency, can be seen from the percentage of 96 respondents with a percentage (43%) of a total of 223 respondents. So from these results it can be seen that the level of knowledge of mothers has not been fully mastered about Dengue Hemorrhagic Fever.
Conclusions and Suggestions: an overview of the level of knowledge, causes, symptoms, and general maternal care about dengue hemorrhagic fever in the North Wagom sub-district in the sufficient category.
Keywords : DHF, Knowledge, Mother and Child.
Literature : 25 bibliography (2017-2019)

PENDAHULUAN
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular dengan penyebaran yang cenderung meningkat dan menyerang terutama pada anak-anak. DBD disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegipty dan Aedes Albupictus. Vektor ini sering ditemukan di daerah yang beriklim tropis dan sub tropis. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa lebih dari 70% di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat merupakan daerah yang paling serius terkena dampak dari DBD (WHO,2011). Hingga saat ini, WHO memperkirakan sebanyak 50 sampai 100 juta orang terinfeksi Dengue setiap tahunnya, dengan jumlah kasus sebanyak 500.000 dan jumlah kematian karena DBD sebanyak 22.000 dimana sebagian besar terjadi pada anak-anak (WHO,2015;CDC, 2015).
Menurut Kemenkes, 2016 dalam Asean Dengue Day menyatakan bahwa di wilayah Asia Tenggara, Indonesia, dan Filipina memiliki tanggungan beban besar dalam kasus demam berdarah. Pada tahun 2013 Indonesia menempati urutan ke-3 dengan kasus sebanyak 101.218 kasus setelah Filipina (166.107 kasus) dan Thailand (150.454 kasus).
Jumlah kasus DBD fluktuatif setiap tahun. Data dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular Vektor dan Zoonotik, Kemenkes RI tahun 2014 menunjukkan jumlah penderita di Indonesia mencapai 100.347, 907 orang diantaranya meninggal. Tahun 2015, penderita DBD dilaporkan mencapai 129,650 orang dengan 1.071 kematian. Angka ini meningkat lagi di tahun 2016 sebanyak 202.314 penderita dan 1.593 kematian. Tahun 2017, terhitung dari bulan Januari hingga bulan Mei sebanyak 17.877 kasus dengan angka kematian sebanyak 115 orang. Angka kesakitan atau incident rate (IR) di 35 provinsi di tahun 2015 mencapai 50.75 per 100 ribu penduduk dan IR di 2016 mencapai 78.85 per 100 ribu penduduk. Angka ini sangat tinggi dari target nasional yaitu 49 per 100 ribu penduduk (Kemenkes RI, 2017).
Kabupaten Fakfak merupakan salah satu penyumbang kasus DBD di propinsi Papua Barat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak Papua Barat, Distrik Pariwari merupakan wilayah dengan kasus DBD tertinggi. Distrik Pariwari memiliki sembilan kelurahan dengan total jumlah jiwa 19.200. Di Kabupaten Fakfak kejadian DBD mengalami peningkatan setiap tahun. Data yang diperoleh sebanyak 160 penderita pada tahun 2017 dan meningkat di tahun 2018 sebanyak 172 penderita atau 1,08 % dengan angka kematian sebanyak 2 penderita.
Upaya yang dilakukan oleh pemerintah mulai tingkat nasional sampai daerah dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian DBD yaitu dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara optimal melalui Gerakan 1 Rumah 1 Juru Pemantau Jentik Nyamuk (Jumantik). Kegiatan ini pun sudah dilakukan oleh puskesmas –puskesmas di kabupaten Fakfak dengan selalu memantau kegiatan PSN oleh Jumantik setiap bulan. Selain kegiatan PSN oleh Jumantik, setiap rumah diberi kelambu berinsektisida secara gratis, pembagian abate dan dilakukan penyuluhan setiap bulan disaat ada kegiatan posyandu bayi balita. Fokus sasaran penyuluhan di setiap posyandu yaitu ibu-ibu yang datang membawa anak ke posyandu bayi balita karena insiden terjadinya DBD lebih banyak dialami oleh anak-anak dengan rentang usia 1-4 tahun. Tidak menutup kemungkinan pemberitahuan tentang DBD juga dilakukan di setiap rumah ibadah yaitu Mesjid dan Gereja.
Hasil penelitian Gunasekara, Velathhantiri, Weeresekara, at al (2012), mengatakan bahwa dari 349 warga yang diteliti, hampir semua pernah mendengar tentang DBD (98%), namun berdasarkan sistem penilaian hanya 58 % yang memiliki pengetahuan yang memuaskan tentang DBD. Hal ini didukung dari hasil penelitian Wati, Astuti, dan sari (2016) antara pengetahuan orang tua tentang upaya pencegahan dengan kejadian DBD pada anak, yaitu sebagian besar anak positif DBD dengan persentase pengetahuan kurang sebanyak 18 responden ( 79,5%). Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak orangtua yang tidak mengetahui bahaya penyakit DBD dan kaitannya dengan pentingnya melaksananakan pencegahan terhadap kejadian DBD melalui usaha PSN ataupun dengan cara 3 M plus.
Sudah banyak cara yang dilakukan oleh petugas kesehatan tentang bagaimana mengatasi angka kejadian DBD dengan memutus rantai berkembangbiaknya larva nyamuk Aedes Aegipty namun masih saja banyak kejadian DBD . Hasil penelitian Parnali Dhar- chowdhury, at al(2017) mengatakan bahwa Dengue virus ( DENV) dalam paparannya virus dengue sangat erat hubungan dengan usia, kepemilikan tanaman pot dalam ruangan, jenis tindakan pengendalian yang digunakan, termasuk pengolahan air atau praktek penyimpanan.
Penderita yang masuk di RSUD Fakfak sudah dengan status Demam Berdarah Dengue (klasik) dan bahkan ada yang dengan Dengue Syok Sindrom (DSS). Kebanyakan keluarga membawa anak-anaknya berobat ke sarana kesehatan jika anak sudah mengalami demam selama 3-5 hari atau mengalami syok dan ada juga muncul dampak dari peningkatan DBD yang tak kalah pentingnya yaitu dampak psikologis ,yang mana muncul merebak di kalangan masyarakat Fakfak ketika ada korban yang meninggal dengan kasus DBD yaitu anak dari petugas kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah Fakfak.
Hal ini memicu peneliti untuk meneliti gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang Demam Berdarah Dengue (DBD ) pada anak di kelurahan wagom distrik Pariwari terhadap kejadian DBD . apakah keluarga mampu mengenali anak dengan DBD, bagaimana merawat anak dirumah, bagaimana mengenali tanda-tanda berbahaya untuk segera membawa anak ke rumah sakit dan bagaimana mencegah DBD.

BAHAN DAN METODE
lokasi, populasi dan sampel
Penelitian ini akan mulai dilaksanakan pada bulan April – Mei 2019. Lokasi Penelitian ini telah dilaksanakan di Kelurahan Wagom Utara Distrik Pariwari Kabupaten Fakfak Propinsi Papua Barat. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 500 responden. Sampel dalam penelitian ini sebasar 223 orang.
1. Kriteria Inklusi
a. Ibu yang mempunyai anak dari 0-18 tahun
b. Memahami bahasa Indonesia.
c. Sehat jasmani dan rohani
d. Bersedia menjadi responden.

  1. Kriteria eksklusi
    a. Tidak bersedia menjadi responden
    b. Pasien yang tidak datang berobat di Puskesmas Antara.

Pengolahan Data
1. Editing
Hasil wawancara, angket, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing adalah merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner tersebut.
2. Coding atau pengkodean
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan peng”kodean” atau coding, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
3. Memasukkan data (Data Entry) atau Processing
Data entry adalah kegiatan memasukan data, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan kedalam program atau software komputer. Salah satu paket program yang paling sering digunakan untuk “entri data” penelitian adalah paket program SPSS for windows.
4. Pembersihan Data (Cleaning)
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidak lengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.

Analisis data
Analisa data diolah dengan sistem komputerisasi menggunakan program SPSS for windows untuk kemudian dilakukan analisa univariat.

HASIL PENELITIAN
1. Kriteria Umum Pasien
Tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Ibu Terhadap Demam Berdarah Dengue (DBD) pada anak di Kelurahan Wagom Utara Distrik Pariwari Kabupaten Fakfak (n = 223)

Karakteristik n %
Umur
Remaja Akhir (17-25) 55 24.1
Dewasa Awal (26-35) 91 41.2
Dewasa Akhir (36-45) 63 25.8
Lansia awal (46-55) 14 4.7
Pendidikan
Tidak Tamat SD 6 2,7
Tamat SD/Sederajat 21 9,4
Tamat SMP/Sederajat 25 11,2
Tamat SMA/Sederajat 87 39,0
Tamat Akademik/Sederajat 84 37,7
Pekerjaan
PNS 65 29,1
Wiraswasta 50 22,4
Petani 12 5,4
Tidak Bekerja 96 43,0
Mendapatkan Informasi DBD
Ya 218 97,8
Tidak 5 2,2

Berdasarkan tabel 5.1 menunjukan bahwa mayoritas responden berada pada usia awal (91 orang, lebih dari 87 orang (39,0%) dengan latar belakang pendidikan tamat SMA, mayoritas responden tidak bekerja sebanyak 96 orang (43,0%) dan telah terpapar informasi tentang DBD sebanyak 218 orag (97.,8 %).

  1. Analisis Bivariat
    Tabel 1.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Responden DBD
    Pengetahuan Baik Cukup Kurang
    n % n % n %
    64 28.7 96 43.0 63 28.3

Berdasarkan tabel menunjukkan hasil bahwa tingkat pengetahuan ibu terhadap DBD pada anak di kelurahan Wagom Utara Distrik Pariwari Kabupaten Fakfak menunjukkan pengetahuan yang cukup terhadap DBD, yaitu sebesar 43.0% ( 96 responden).

Tabel 1.3 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkatan Pendidikan Baik Cukup Kurang
n % n % n %
Tidak Tamat SD 0 0.0 2 0.2 4 1.8
Tamat SD 13 5.8 8 3.6 0 0.0
Tamat SMP 0 0.0 13 5.8 0 0.0
Tamat SMA 19 8.5 42 18.8 26 11.7
Tamat Perguruan Tinggi 45 20.2 31 13.9 8 3.6

Berdasarkan tabel menunjukkan hasil bahwa responden pada tingkat perguruan tinggi mempunyai persentase yang lebih besar, memiliki kategori baik dari segi pengetahuan tentang DBD, yaitu sebesar 20.2% (45 responden). Sedangkan responden yang memiliki pendidikan SMA atau sederajat memiliki kategori yang kurang dari segi pengetahuan tentang DBD, yaitu sebesar 11.7% ( 26 responden).

Tabel 1.4 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Umur

Umur Baik Cukup Kurang
n % n % n %
Remaja Akhir (17-25) 8 3.5 24 10.5 23 10.1
Dewasa Awal (26-35) 31 14.2 33 15.1 27 11.9
Dewasa Akhir (36-45) 22 9.3 31 12.1 10 4.4
Lansia Awal (46-55) 1 0.4 7 3.0 2 1.3

Berdasarkan tabel menunjukkan hasil bahwa responden pada usia dewasa awal mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentang DBD, yaitu sebesar 14.2% ( 31 responden).

Tabel 1.5 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Umur

Pekerjaan Baik Cukup Kurang
n % n % n %
Petani 2 0.9 3 1.3 7 3.1
PNS 34 15.2 25 11.2 5 2.2
Tidak Bekerja 10 4.5 50 22.4 35 16.1
Wiraswasta 18 8.1 18 8.1 15 6.7

Berdasarkan tabel menunjukkan hasil bahwa responden yang mempunyai pekerjaan sebagai PNS memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang DBD, yaitu sebesar 15.2% ( 34 responden). Sedangkan responden yang tidak bekerja memiliki tingkat pengetahuan kurang yang lebih tinggi, yaitu sebesar 16.1% (35 responden).

Tabel 1.7 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Mendapat Atau Tidak Informasi DBD

Pengetahuan tentang DBD Baik Cukup Kurang
n % n % n %
Penyebab DBD 104 46.64 104 46.64 15 6.73
Gejala DBD 48 21.52 155 69.51 20 8.97
Perawatan DBD 127 56.95 86 38.57 10 4.48
Pencegahan DBD 137 61.43 74 33.18 12 5.38

Dari tabel diatas dapat dilihat pengetahuan sebagian responden tentang penyebab DBD adalah baik dan cukup sebanyak 46.64% atau 104 responden . Pengetahuan sebagaian responden tentang gejala DBD adalah cukup sebanyak 69.51% atau 155 responden . Sebagian besar responden memiliki pengetahuan tentang perawatan DBD adalah pada kategori baik sebanyak 56.95% atau 127 responden. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan tentang pencegahan DBD adalah pada kategori baik sebanyak 61.43% atau 137 responden. Pada total pengetahuan tentang DBD sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang cukup yaitu sebanyak 43.05% atau 96 responden.

Tabel 1.6 Distribusi pengetahuan tentang penyebab, gejala, perawatan dan pencegahan DBD (n=223)

Mendapat Informasi DBD Baik Cukup Kurang
n % n % n %
YA
63 28.3 96 43.0 59 26.5
TIDAK
1 0.4 0 0.0 4 1.8

Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa responden yang mendapatkan informasi tentang DBD memiliki persentase yang lebih tinggi dalam tingkat pengetahuan mereka, yaitu sebesar 28.3% ( 63 responden).

PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 223 responden, tingkat pengetahuan ibu tentang DBD pada anak di Kelurahan Wagom Utara, kecamatan Pariwari kabupaten Fakfak tahun 2019, dapat dilihat presentasenya berada pada kategori cukup yaitu 96 responden (43%), dan pengetahuan ibu tentang DBD pada kategori baik sebanyak 63 responden (28,3%) serta pengetahuan ibu dengan kategori kurang sebanyak 64 responden (28,7%).
Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan Ibu tentang DBD pada anak di wilayah kelurahanWagom Utara Distrik Pariwari Kabupaten Fakfak, dapat dilihat dari presentase berada pada kategori cukup 96 responden dengan presentase (43%) dari total 223 responden. Maka dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan ibu belum sepenuhnya menguasai tentang Demam Berdarah Dengue.
Para ibu yang berada diwilayah Kelurahan Wagom Utara, masih ada sebagian yang belum mendapatkan informasi tentang DBD yaitu sekitar 5 responden (2,2%), baik lewat media massa maupun penyuluhan dari petugas kesehatan. Hal ini dibuktikan dari tingkat pendidikan sekitar 6 responden (2,7%) yang tidak tamat sekolah dasar. Serta kebanyakan responden yang berada di wilayah Wagom Utara bekerja sebagai ibu Rumah Tangga (tidak bekerja) 96 responden (43%) sehingga ibu kurang memperdulikan tentang kesehatan dan kurang mengetahui secara umum tentang penyakit Demam Berdarah Dengue. Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang terdapat pada anak-anak. Dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama dan apabila timbul renjatan atau shock maka angka kematian akan meningkat.
Ibu yang berada di kelurahan Wagom Utara sebagian memiliki pengetahuan yang baik sekitar 63 responden (28,3%) karena ibu mengganggap ini adalah hal yang sering terjadi dan sering timbul dikalangan keluarga responden, dan mereka sering mendaptak informasi-informasi dari media-media dan televise serta penyuluhan tentang kesehatan sehingga ibu paham penyebab dari DBD. Demam berdarah dengue ditandai oleh demam mendadak tanpa sebab yang jelas diserta gejala lain seperti lemah, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada anggota badan punggung dan sendi, kepala dan perut.

  1. Gambaran usia terhadap pengetahuan ibu tentang DBD pada anak.
    Hasil penelitian ini menunjukkan usia produktif dalam rentang (26-35 tahun) memiliki pengetahuan yang tinggi. Menurut Pangesti (2012), bahwa pada usia produktif merupakan usia yang paling berperan dan memiliki aktivitas yang padat serta memiliki kemampuan kognitif yang baik. Sehingga, pada usia ini memiliki pengaruh terhadap tingkat pengetahuan.
    Usia seseorang juga mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin baik. Pada usia 20-35 tahun, individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua. Selain itu, mereka akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah dan kemampuan verbal dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini. Indiantoro (2009), bahwa umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat beberapa tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Hal ini juga berpengaruh terhadap kognitif seseorang.

  2. Gambaran tingkat penndidikan terhadap pengetahuan ibu tentang DBD pada anak.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hasil bahwa responden pada tingkat perguruan tinggi mempunyai persentase yang lebih besar, memiliki kategori baik dari segi pengetahuan tentang DBD, yaitu sebesar 20.2% (45 responden). Hal ini karena pendidikan dapat memberkan wawasan dan pengetahuan selama proses belajar mengajar sehingga tingkat pengetahuan tentang DBD baik dan dapat di aplikasikan ke dunia nyata atau pada tindak penanganan DBD dan pencegahannya
Sedangkan responden yang memiliki pendidikan SMA atau sederajat memiliki kategori yang kurang dari segi pengetahuan tentang DBD, yaitu sebesar 11.7% ( 26 responden). Hal ini karena pelajaran semasa sekolah kurang memberikan wawasan dan pengetahuan terhadap penanganan DBD dan pencegahanya sehingga pengetahuan DBD kurang dan hal ini karena kurangnya fasilitas untuk mendapatkan pengetahuan yang memadai pula.
Menurut Muzaham, menyatakan bahwa pendidikan formal pada dasarnya akan memberikan kemampuan pada seseorang untuk berpikir rasionaldan objektif dalam menghadapi masalah hidup terutama penyakit (wulandari, 2013). Pendidikan merupakan bimbingan yang diberikan seseoarang terhadap perkembangan orang lain menuju impian dan cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dalam hidup agar tercapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi untukberupa hal-hal yang dapat menunjang kesehatan agar hidupnya optimal (Notoatmojo,2014). Menurut YB Mantra dalam Notoatmojo, 2014 pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk berperan serta , pada umumnya makin tinggi tingkat pengetahuan maka semakin mudah menerima informasi.
Berdasarkan hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Ristiyanto, 2014) bahwa Pendidikan dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi 6 jenjang yaitu tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, Tamat SD, Tamat SLTP, Tamat SLTA dan Tamat D3/ S1. Hasil survei (Tabel 1) diketahui bahwa responden dengan pendidikan tamat SLTA mempunyai persentase paling besar yaitu 28,1%, sedangkan responden tidak pernah sekolah mempunyai persentase paling kecil yaitu 2,1%.

  1. Gambaran pekerjaan terhadap pengetaahuan ibu tentang DBD pada anak

Hasil penelitian menunjukkan ibu dengan pekerjaan PNS lebih baik pengetahuannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Pangesti (2012), menjelaskan bahwa pekerjaan seseorang akan berpengaruh terhadap pengetahuan dan pengelaman seseorang. Penjelasan mengapa pekerjaan berpengaruh terhadap seseorang adalah ketika pekerjaan tersebut lebih sering menggunakan otak dari pada menggunakan otot. Kinerja dan kemampuan otak seseorang dalam menyimpan (daya ingat) bertambah atau meningkat ketika sering digunakan, hal ini berbanding lurus ketika pekerjaan seseorang lebih banyak menggunakan otak daripada otot.
Penjelasan lain yang mendukung adalah kemampuan otak atau kognitif seseorang akan bertambah ketika sering digunakan untuk beraktifitas dan mengerjakan sesuatu dalam bentuk teka-teki atau penalaran. Adapun realita yang ada untuk pekerjaan ibu yang memiliki pengetahuan yang baik, yaitu PNS, dimana pekerjaan PNS lebih menggunakan otak dibanding dengan otot.
Berdasarkan penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian (Ristiyanto, 2014) bahwa Pekerjaan responden terbanyak adalah ibu rumah tangga (66,4%), diikuti wiraswasta/pedagang (18,5%).

  1. Gambaran Tingkat Pengetahuan Berdasarkan penyebab, gejala, perawatan dan pencegahan DBD dalam mendapat Atau Tidak Informasi tentang DBD

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa pengetahuan sebagian responden tentang penyebab DBD adalah baik dan cukup sebanyak 46.64% atau 104 responden. Hal ini karena responden mendapatkan langsung dari pihak rumah sakit atau perawat sehingga responden sedikit paham mengenai penyebab utama dari penyakit DBD walaupun responden kurang mendapatkan informasi dari media social karena faktor mediayang tidak memadai.
Pengetahuan sebagaian responden tentang gejala DBD adalah cukup sebanyak 69.51% atau 155 responden. Hal ini karena responden lebih banyak mendapatkan penjelasan dan tindakan yang tepat dalam keperawatan terhadap responden walaupun responden kadang kurang memahami mengenai penyebab utama dari penyakit DBD
Sebagian besar responden memiliki pengetahuan tentang perawatan DBD adalah pada kategori baik sebanyak 56.95% atau 127 responden. Hal ini karena adanya dorongan dan bantuan dari perawat dalam melakukan tindakan keperawatan yang cepat dan tanggap terhadap responden walaupun responden kurang mendapatkan pelayanan dengan cepat karena jarak dan tempat yang sulit untuk mencapai pelayanan yang memadai.
Sebagian besar responden memiliki pengetahuan tentang pencegahan DBD adalah pada kategori baik sebanyak 61.43% atau 137 responden. Hal ini karena adanya perilaku perhensif atau pencegahan yang dilakukan perawat dan responden dalam melakukan pencegahan DBD yaitu dengan menjaga kebersihan dan kesehatan dalam rumah tangga walaupun sebagian responden kurang mendapatkan pelayanan penyuluhan terkait pencegahan dan perawatn DBD di wilayahnya karena faktor tempat dan jarak yang jauh dan sulit.
Pada total pengetahuan tentang DBD sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang cukup yaitu sebanyak 43.05% atau 96 responden. Hal ini karena responden kurang mendapatkan pengetahuan secara menyeluruh di setiap daerah hal ini karena keterbatasan tempat dalan lokasi yang sulit di lalui dan kurangnya media yang memadai dalam mendapatkan informasi seperti media internet dan buku sebagai sumber utama pengetahuan responden.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian (Susila, 2014) bahwa tingkat pengetahuan responden tentang demam berdarah dan kejadian demam berdarah terhadap 58 responden. Hasil penelitian diketahui bahwa responden sebagian besar tingkat pendidikan sedang berjumlah yang 32 orang (55,2%) dan tingkat pengetahuan tinggi berjumlah 26 orang (44,8%). Responden yang tingkat pengetahuan tinggi kebanyakan tidak pernah terkena demam berdarah di dalam keluarganya dengan jumlah 20 orang, dan yang pernah terkena demam berdarah sebanyak 6 (enam) orang. Responden yang tingkat pengetahuan sedang kebanyakan pernah terkena demam berdarah di dalam keluarganya dengan jumlah 16 orang, dan yang tidak pernah terkena demam berdarah sebanyak 16 orang. Berdasarkan analisis data dengan Chi Square Tests dengan nilai p=0,036 menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan DBD dan kejadian DBD. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.

  1. Gambaran mendapatkan informasi terhadap pengetaahuan ibu tentang DBD pada anak.

Hasil penelitian ini menggambarkan rensonden banyak menerima informasi memiliki pengetahuan yang baik menunjukkan bahwa responden yang mendapatkan informasi tentang DBD memiliki persentase yang lebih tinggi dalam tingkat pengetahuan mereka, yaitu sebesar 28.3% ( 63 responden). Hal ini karena responden mendapatkan informasi dari pihak puskesmas atau dinas kesehatan terkait dan jarak yang memadai sehingga pengetahuan responden terhadap DBD baik yang dapat mencegah dan menangani terjadinya DBD di sekitar lingkungannya atau pada keluarganya.
Berdasarkan teori menurut newcomb yang dikutip oleh Notoadmodjo (2003), menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan motif tertentu akan lebih mudah menerima informasi sehingga memiliki sikap yang lebih baik dari pada seseorang yang berpendidikan lebih rendah. Sedangkan dilihat dari faktor pendukung, berdasarkan hasil penelitian pada responden dengan tingkat pendidikan SMA memiliki pengetahuan yang rendah, menurut peneliti, ibu dengan larat belakang pendidikan rendah dapat bertambah pengetahuannya melalui informsi yang diterima tentang DBD, baik melalui media cetak atau online juga dari pengalaman dari anaknya yang sakit.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran tingkat pengetahuan ibu terhadap DBD pada anak di Kelurahan Wagom Utara, Kecamatan Pariwari Kabupaten Fakfak sebanyak 223 responden dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Gambaran tingkat pengetahuan ibu secara umum tentang Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Wagom Utrara berada pada kategori cukup
2. Gambaran tingkat pengetahuan ibu secara umum tentang Pengertian Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Wagom Utrara berada pada kategori cukup
3. Gambaran tingkat pengetahuan ibu secara umum tentang Penyebab Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Wagom Utrara berada pada kategori cukup
4. Gambaran tingkat pengetahuan ibu secara umum tentang Gejala Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Wagom Utrara berada pada kategori cukup
5. Gambaran tingkat pengetahuan ibu secara umum tentang cara cara perawatan Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Wagom Utrara berada pada kategori cukup
6. Gambaran tingkat pengetahuan ibu secara umum tentang cara pencegahan Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Wagom Utrara berada pada kategori cukup.

SARAN
1. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak
Agar lebih meningkatkan lagi mutu pelayanan kesehatan dan pengetahuan ibu tentang kesehatan khususnya penyakit DBD dengan cara memberikan penyuluhan-penyuluhan khususnya didaerah yang tinggi angka kesakitan dan kematian kasus DBD serta meningkatkan upaya pencegahan dan mengajarkan serta membiasakan masyarakat memiliki pola hidup gerakan masyarakat sehat (GERMAS).
2. Bagi Kelurahan Wagom Utara
Diharapkan untuk dapat mendorong masyarakat untuk tetap berpartispasi dalam mengerakan masyarakat dalam upaya pencegaha peningkatan kasus DBD
3. Bagi Peneliti lain
Diharapkan penelitian ini bisa dapat dikembangkan lagi sehingga dapat menekan angka kejadian kesakitan dan kematian terhadap DBD.

DAFTAR PUSTAKA
Anindia, L. (2009). Pengetahuan Ibu Rumah Tangga di Paseban Barat Jakarta Pusat tentang Demam Berdarah dengue dan faktor-faktor yang berhubungan. FK UI.

Ashif, R.J, Arkhaedesi,W & Haeruddin. (2011). Hubungan antara lama penurunan suhu tubuh dengan indeks efusi pleura pada anak dengan Demam Berdarah Dengue, 11.

Achjar, K. A. (2010). Aplikasi praktiks asuhan keperawatan keluarga. Sagung Seto : Jakarta

Bhave, S. dan Rajput, C.S (2015). Chinicalprofil outcome of dengue ferver and dengue haemoragic fever in pediatric age group with special reference ti who guidelimes 2012 on fluid management of dengue fever. Internasional journal of advanced reerce, 199

Bhavsar, Ami T, Donal Shepard, Jose A Suaya, Musa Mafowosofo, Clare L. Hurley, Marion W.Howard.(2010). A private hospital-based study assessing knowledge, attitudes, practices and costs associated with dengue illness in Surat India. Dengue Bulletin 34. 54-60.

Cristanto, et al. (2014). Kapita selekta kedokteran ed.3 jilid 1. Teguh Hopcop: Jakarta

Dharma, Kelana Kusuma. (2017). Metodelogi penelitian keperawatan. Trans Info Media : Jakarta.

Fullerton, Laura M Sarah Dickin, Cornies, Schuster Wallace. (2014). Mapping Gobal Vlnerability to beague using the water associated Disease Index Antario United. http://inweh.unu.edu/wp-content upload global-vuinerability-to dengue-using-WADI.pdf.

Gunasekara, Velathantiri, Weerasekara, Fernando, Peelawattage, Guruged (2012). Knowlwdge, attitudes and practices regarding dengue fever in a suburban community in Srilanka. Galle Medical Journal 17 (1), 10-17.

Hadinegoro, S.R. (2011). Demam tifoid pada anak yang perlu diketahui Medicastore, I.

Harningsih, D.Setiawan D & Hasan Mihardja M. (2012). Identifikasi permasalahan dosis dan terapi pada pasien anak demam berdarah dengue (DBD) rawat inap pengguna askes dan nonaskes di RSUD Prof. Dr. Margono Soekaharjo Purwokwerto, Parmach 27.
Kemenkes, RI. (2011). Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Jakarta

Kemenkes RI. (2016). Asian Dengue Day di Indonesia. Jakarta

Kemenkes, RI. (2017). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. Sekretariat Jendral Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Notoatmodjo. (2012).Metodologi penelitian kesehatan. Renena Cipta: Jakarta.

Nurrif, & Kusuma. (2015). Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan doagnosa medis & NANDA (North American Nursing Diagnosis Accosiation) NICNOC. Yogyakarta: Media Action.

Rahmawati, E. (2012). Hubungan antara jenis antiperitika yang digunakan dengan manifestasi perdarahan pada anak yang mendrita Demam Berdarah Dengue,2.

Ristiyanto. (2014). Peran Pengetahuan Dan Tingkat Pendidikan Terhadap Perilaku Pengendalian Vektor Dbd Pada Masyarakat. 6(February 2009), 41–45.

Sastroasmoro. (2011). Dasar-dasar Metodelogi Penelitian Klinis. CV. Sagung Seto. Jakarta.

Soedarto. (2011). Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Sagung Seto. Jakarta.

Soedarno S, Garma H. Hadinegoro S.R Satari H.I (2012). Buku ajar infeksi dan pediatric drops, Jakarta : Badan penerbit IDAI

Sudaryono. (2012). Perbedaan manifestasi klinis dan laboratorium berdasarkan imnuoglobin pada penderita demam berdarah dengue, perpustakaan 25-26

Sugiyono. (2013). Metodologi Penelitian Kombinasi. Alfabeta : Bandung

Susila. (2014). Hubungan tingkat pengetahuan dbd dengan kejadian dbd di banjar pegok, desa sesetan, kecamatan denpasar selatan. 5, 28–33.

WHO. (2009). Dengue Guedillines For Diagnosis Treatmen, Prevention And Control.

Wati, N. K., Astuti, S., & Sari, L. K. (2016). Hubungan pengetahuan dan sikap orang tua tentang upaya pencegahan dengan kejadian DBD pada anak di RSUD Banjarbaru tahun 2015. Jurkessia, 24-25.

Ziliwu, H. J. (2014). Buku Ajar Metodologi dan Riset Keperawatan. Pustaka As Salam : Makassar.

(Visited 402 times, 1 visits today)